Tidak
terasa kurang dari dua bulan Ramadhan akan segera datang, bulan yang hanya datang
satu kali dalam satu tahun ini begitu dinanti dan dirindukan. Pada seluruh
harinya bernilai ibadah dan kesempatan meraih pahala yang berlimpat ganda. Di hari
terakhirnya seluruh muslim akan merindukan suara takbir hari raya berharap
seluruhnya dapat berkumpul bersama sanak saudara dipenuhi kebahagiaan dan
keikhlasan terhadap sesama. Tak sedikit kemudian semuanya mempersiapkan
kedatangan bulan ini dengan memohon ma’af sebagai salah satu upaya membersihkan
hati atas segala salah yang telah dilakukan.
Manusia
adalah tempat salah dan lupa sehebat apapun manusia tersebut pasti pernah
berbuat salah dan lupa. Jika seseorang melakukan kesalahan pada orang lain, ada
beberapa sikap yang biasanya orang lakukan:
1.
Membalasnya dengan yang lebih maka itu adalah sebuah penganiayaan,
2.
Membalas setimpal ini juga merupakan hal yang keliru,
3.
Memaafkan tetapi ia tidak melupakan, dan
4.
Memaafkan sepenuhnya serta mengkhilaskan tidak mengungkit-ungkit kembali. Ini
adalah sebuah sikap yang benar benar mulia dan diharapkan dimiliki pada setiap
diri kita.
Tiga dari kategori di atas itu bukanlah maaf,
maaf yang sebenarnya berarti menghapus sehingga tidak ada lagi kesalahan itu
berbekas seperti poin nomor 4 di atas. Membahas tentang maaf saya jadi teringat
do’a yang Rasul panjatkan:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا
قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو
قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dari ‘Aisyah
Radhiyallahu anhuma , dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku,
jika aku menemui malam al-qadr, doa apa yang akan aku katakan?” Beliau
menjawab: “Katakanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu
‘anni (Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, Engkau suka
memberi maaf, maka maafkanlah aku)”.[1]
Bagaimana
aku menjelaskan kemuliaan baginda Nabiku ini Ya Allah..
Cerdasnya
Rasulullah saw dalam berdoa meminta keampunan dari Allah dengan redaksi kata 'afuwwun
yang bermakna sangat dalam, oleh karena itu saya akan mengulas secara singkat
makna dibalik do’a tersebut. Sesungguhnya kata maaf dalam redaksi 'afuww
berarti meminta keampunan atau kemaafan dari segala dosa-dosa yang Allah
hapuskan seluruhnya, bahkan para malaikat seakan dibuat lupa terhadap dosa yang
dibuat hambaNya atas dosa dan kesalahannya, you know?? Like you click delete
and your file lose.
Berbeda
dengan kata meminta ampunan yang lain seperti kata maghfirah, jika Allah
memberikan maghfirah bagi seorang hambaNya maka Allah ampuni ia namun
catatan dosa ataupun kesalahannya tetap ada dan tidak dihapus. You know?
Seperti seseorang yang terkena kasus dalam sebuah pengadilan kemudian ia selamat
dari pengadilan akan tetap catatan kasusnya dalam pengadilan tersebut tetap
tercatat. Semoga bermanfaat dan dapat mengamalkan
apa yang telah baginda Nabi wariskan.
Desi
Apriani, Sabtu 23 Maret 2019.
[1]
Read
more https://almanhaj.or.id/5184-dalil-doa-lailatulqadr.html (HR Ibnu
Majah, no. 3850 dan Ahmad). Dishahîhkan oleh Syaikh al- Albâni.
Komentar
Posting Komentar