Di dalam ajaran tasawuf Abu Yazid dikenal istilah Fana dan Baqa,
sebelum membahas mengenai Baqa perlu kiranya kita mengetahui apa itu fana.
Secarah harfiah fana berarti meninggal dan musnah. Dalam kaitannya dengan sufi,
sebutan tersebut biasanya digunakan dengan proposisi: fana’an, sufi, yang
artinya kosong dari segala sesuatu, melupakan atau tidak menyadari sesuatu.[1]
Dari segi bahasa fana berasal dari bahasa Arab, yakni faniya-yafna yang berarti
musnah, lenyap, hilang, atau hancur. Dalam istilah tasawuf fana adakalanya
diartikan sebagai keadaan normal yang luhur. Abu Bakar Al-Kaladzabi, (W.378
H/988M) mendefinisikan fana sebagai “hilangnya semua keinginan hawa nafsu
seseorang, dan tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia
kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia
telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu”.[2]
Fana juga berarti memutuskan
hubungan selain Allah SWT, dan mengkhususkan untuk Allah SWT dan bersatu
dengan-Nya. Adapun arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran
pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada
diri. Pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan
sifat-sifat ketuhanan, dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat tercela.
Mustafa Zuhri mengatakan bahwa fana adalah lenyapnya indrawi atau
ke-basyariyah-an, yakni sifat manusia yang menyenangi syahwat dan hawa nafsu.
Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, tiada lagi melihat apapun dari
alam wujud ini sebab ia telah fana dari alam cipta atau dari alam makhluk.
Di dalam kitab Al-Jawahir, fana adalah kemampuan seorang hamba
memandang bahwa Allah SWT berada pada segala sesuatu. Dengan demikian, fana
bagi seorang sufi adalah mengharapkan kematian itera (kematian itera adalah
sifat zuhud yang “mematikan” segala nafsu buruk yang ada dalam diri manusia,
hatinya dipenuhi dengan rasa cinta tanpa sedikit pun ada kebencian, sebagaimana
Mahabbahnya Rabi’ah), yang tersisa hidup di dalam dirinya hanyalah Tuhan. Jadi,
seorang sufi dapat bersatu dengan Tuhan apabila terlebih dahulu meleburkan
dirinya. Selama ia masih sadar akan dirinya, ia tidak akan bersatu dengan
Tuhan.[3]
Peleburan diri tersebut senantias diiringi dengan baqa, yang
berarti to live and survive (hidup dan terus hidup). Baqa berasal dari kata
baqiya yang artinya adalah tetap, sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti
mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah SWT. Dalam kaitan dengan sufi,
sebutan baqa biasanya dengan proposisi: baqa bi yang berarti diisi dengan
sesuatu, hidup atau bersama sesuatu.[4] Di
dalam tasawuf fana dan baqa beriringan, sebagaiman yang dinyatakan oleh para
ahli tasawuf, “Apabila tampak nur ke-baqa-an, fana-lah yang tiada, dan baqa-lah
yang kekal. Tasawuf itu ialah fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya,
karena hati mereka bersama Allah SWT.”
Sedang akibat dari fana adalah baqa, baqa adalah kekalnya
sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya
(fana) sifat basyariyah, yang kekal adalah sifat-sifat ilahiyah. Pencapaian Abu
Yazid ke tahap fana terjadi setelah meninggalkan segala keinginan selain
keinginan kepada Allah SWT, seperti tampak dalam cerita:
“Setelah
Allah menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar puas dari-Nya.
Maka diriku dicap dengan keridhaan-Nya. Engkaulah yang aku inginkan, jawabku.
Karena Engkau lebih utama daripada anugerah lebih besar dari kemurahan, dan melalui
Engkau, aku mendapat kepuasan, dan melalui Engkau, aku mendapat kepuasan
melalui diri-Mu.”
Jalan menuju fana menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya
menatap Tuhan, ia bertanya:
“Bagaimana
caranya agar aku sampai pada-Mu? Tuhan menjawab, ‘Tinggalkan diri (nafsu) dan
kemarilah’.”
Paham baqa tidak bisa dipisahkan dengan paham fana karena keduanya
berpasangan. Jika seorang sufi sedang mengalami fana, maka pada saat itu pula
ia mengalami baqa. Untuk mencapai tahap seperti ini seorang sufi harus mengikuti
tahap persiapan. Ia harus memiliki iman yang besar, menjauhi perbuatan munkar,
menjauhi dosa-dosa besar dan menjauhi dosa-dosa kecil sebanyak mungkin. Ia
harus shalat wajib dan berbagai kewajiban yang disyariatkan kepadanya dan
menjalankan segala sunnah Rasul yang terpuji.
Dengan demikian, sesuatu di dalam diri sufi akan fana atau hancur
dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal, hilang kejahilan akan timbul
ilmu, hilang sifat buruk akan timbul sifat baik, hilang maksiat akan timbul
taqwa, yang tinggal dalam dirinya adalah sifat-sifat yang baik.[5]
A.
Tokoh pencetus konsep al-Fana dan Baqa
Abu Yazid al Bustami lahir di Bustam, bagian Timur
Laut Persia pada tahun 188 H/874 M dengan nama kecil Taifur. Sedangkan nama
lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Kakeknya
bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster, kemudian masuk dan memeluk
agama Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk golongan menengah, namun
mereka memilih untuk hidup sederhana.[6]
Sejak dalam
kandungan ibunya, Abu Yazid sudah memiliki kelebihan. Menurut ibunya, apabila
ia memakan makanan yang diragukan kehalalannya maka jabang bayinya akan
memberontak dan ibunya akan memuntahkan makanan tersebut.
Saat
menginjak remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan selalu taat
pada perintah agama dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Perlu
berpuluh-puluh tahun bagi Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi. Sebelum menjadi
sufi, ia terlebih dulu menjadi seorang faqih dari madzhab Hanafi.
Gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al-Sindi dari India. Abu Yazid mendapatkan
ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya dari dia. Setelah menjadi seorang faqih,
Abu Yazid kemudian menjadi seorang zahid selama 13 tahun. Ia mengembara di
gurun-gurun pasir di Syam, dengan sedikit makan, minum dan tidur. Baginya,
zahid itu adalah seoarang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan
dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia,
zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam fase terakhir ini
ia berada dalam kondisi mental yang menjadikan dirinya tidak mengingat apa-apa
lagi selain Allah.
Karena
ajaran yang dibawa berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya, ia banyak
ditentang oleh ulama Fiqh dan Kalam sehingga menyebabkan ia keluar masuk
penjara. Meski demikian, ia memperoleh banyak pengikut yang percaya kepada
ajaran yang dibawanya. Pengikut-pengikutnya menamakannya Taifur. Kata yang
diucapkannya seringkali mempunyai arti yang begitu mendalam, sehingga jika
ditangkap secara lahir akan membawa kepada syirik, karena mempersekutukan
antara Tuhan dengan manusia.
Abu Yazid
meninggal dunia pada tahun 261 H/974 M di Bustam. Makamnya masih ada hingga
saat ini. Makamnya yang terletak di tengah kota menarik banyak pengunjung dari
berbagai tempat. Pada tahun 1313 M, didirikan di atasnya sebuah kubah yang
indah oleh seorang Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda atas nasehat gurunya
Syekh Syafruddin, salah seoarang keturunan dari Bustam.
B.
Penjelasan mengenai Musyahadah dan tokohnya
Musyahadah dalam istilah sufiah adalah keadaan hati (bathin) hamba
itu merasakan berhadapan dengan Allah SWT. Ia merasakan Allah SWT itu ibarat
berada dihadapannya. Tetapi bukanlah hakikatnya demikian karena mustahil dan
tidak akan terjadi Allah SWT berada di hadapannya karena Allah SWT bukan massa
yang mengambil ruang. Artinya hanya ia merasakan hampirnya ke Allah SWT, ingat
dia dengan kebijakan Syuhud dzauq, maka merasailah seolah-olah Allah SWT itu
berhadap-hadapan dengannya.
Musyahadah itu adalah nampaknya Allah SWT pada hambanya dimana
seorang hamba itu tidak melihat apapun didalam beribadah itu adalah dalam
pengertian umum, melainkan dia hanyalah berkeyakinan bahwa dirinya telah
berhadapan langsung dengan Allah Swt. "Musyahadah artinya runtuhnya runtuh
secara pasti." Musyahadah inilah yang meruntuhkan hijab dan bukan
merupakan wujud dari keruntuhan hijab itu.
Runtuhnya hijab diikuti dengan musyahadah. Ada tiga derajat
musyahadah, yaitu:
1. Musyahadah ma'rifat, yang berlalu di atas batasan ilmu, dalam
cahaya wujud dan berada dalam kefanaan kebersamaan. Ini merupakan landasan
golongan ini, bahwa ma'rifat di atas ilmu. Ilmu menurut mereka adalah
pengetahuan tentang data, sedangkan ma'rifat merupakan penguasaan tentang
sesuatu dan batasannya. Dengan begitu ma'rifat lebih tinggi daripada ilmu. Ada
pula yang mengatakan bahwa amal orang-orang yang berbuat baik berdasarkan ilmu,
sedangkan amal orang-orang yang taqarrub berdasarkan ma'rifat. Di satu sisi
pendapat ini bisa dibenarkan, tapi di sisi lain dianggap salah. Orang-orang
yang berbuat baik dan orang-orang yang taqarrub beramal berdasarkan ilmu
memperhatikan hukum-hukumnya. Sekalipun ma'rifatnya orang-orang yang taqarrub
lebih sempurna daripada orang-orang yang berbuat baik, toh keduanya sama-sama
ahli ma'rifat dan ilmu. Orangorang yang berbuat kebaikan tidak akan
menyingkirkan ma'rifat dan orang-orang yang taqarrub tetap mem-butuhkan ilmu.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menasihati Mu'adz bin Jabal,
"Engkau akan menemui suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah seruanmu
yang pertama kepada mereka adalah sya-hadat la ilaha Wallah. Jika mereka sudah
mengetahui Allah, kabarkan-lah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan
shalat lima waktu sehari semalam." Mu'adz bin Jabal harus membuat mereka
tahu tentang Allah sebelum menyuruh mereka mendirikan shalat dan mem-bayar
zakat. Tidak dapat diragukan bahwa ma'rifat seperti ini tidak seperti
ma'rifatnya orang-orang Muhajirin dan Anshar. Manusia ber-beda-beda dalam
tingkat ma'rifatnya.
2. Musyahadah dengan mata kepala, yang memotong tali kesaksian, mengenakan
sifat kesucian dan mengelukan lidah isyarat. Derajat ini lebih tinggi daripada
derajat pertama. Sebab derajat pertama merupakan kesaksian kilat yang berasal
dari ilmu mengenai tauhid, sehingga orangnya dapat melihat semua sebab.
Sedangkan orang yang ada dalam derajat ini tidak memiliki tali kesaksian, bebas
dari sifat-sifat jiwa, dan sebagai gantinya dia mengenakan sifat kesucian serta
lidahnya tidak membicarakan isyarat kepada apa yang disaksikannya. Ini
merupakan kesaksian wu jud itu sendiri, tanpa disertai kilat dan cahaya, yang berarti
derajatnya lebih tinggi.
3. Musyahadah kebersamaan, yang menarik kepada kebersamaan, yang
mencakup kebenaran perjalanannya dan menumpang perahu wujud. Menurut Syaikh,
orang yang ada dalam derajat ini lebih mantap dalam kedudukan musyahadah,
kebersamaan dan wujud serta lebih mampu membawa beban perjalanannya, yang
berupa berbagai macam pengungkapan dan ma'rifat.
Sesungguhnya musyahadah yang sempurna dihasilkan apabila telah
sempurna suluknya, sempurna mencapai maqam fana Af'al, fana Sifat, fana Asma
'dan fana Zat. Yakni dasarnya adalah, apabila telah sempurna kesucian nafsu
yang yang menghalang dari ingatan kepada Allah Taala. Musyahadah adalah terbuka
hijab alam bathin dengan Nur Makrifah dan ketika itu tajallilah Zat Allah di alam gaib dan Allah melihat dia di
lingkungan dzahir. Dan ketika itu ia melihat rahasia ketuhanan dan ALlah
melihat penghambaannya meliputi dzahir dan bathin.
C.
Penjelasan mengenai Ittihad dan tokohnya
Ittihad secara bahasa berasal dari kata ittahada-yattahidu, yang
artinya (dua benda) menjadi satu, yang dalam istilah para sufi merasa dirinya
bersatu dengan Tuhan.[7]
Tahapan ini adalah tahapan yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahapan
fana dan baqa. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara
yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya.[8]
Para sufi selalu ingin lebih dekat lagi dengan Tuhan, ingin bersatu dengan
Tuhan. Mereka berusaha melupakan diri dan memusatkan kesadaran pada diri Tuhan.
Mereka pun sampai ke tingkat fana’, hancur kesadaran tentang dirinya dan
tinggal kesadarannya tentang diri Tuhan. Yang terakhir ini disebut baqa’. Dengan hancurnya kesadaran para sufi tentang dirinya dan
tinggal kesadaran mereka tentang diri Tuhan, mereka akhirnya sampai pada
tingkat ittihad, bersatu dengan Tuham. Di sini pada sufi sampai pada
tujuan akhirnya. Mereka telah sampai ke Tuhan, bahkan bersatu dengan Tuhan,
dasar dari segala dasar.
Dengan mengutip A.R. Baidlawi, Harun Nasution memaparkan, dalam ittihad
yang dilihat hanya satu wujud, meskpiun ada dua wujud yang berpisah satu dengan
yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam
ittihad bisa terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau
dengan kata lain antara sufi dengan Tuhan. Dalam ittihad, identitas telah
hilang, identitas telah menjadi satu. Karena fana’-nya, sufi yang bersangkutan
tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.
Ketika sampai ke ambang pintu ittihad, dari sufi keluar ungkapan-ungkapan
ganjil yang dalam istilah sufi disebut syathahat (ucapan teopatis). Dengan
fananya Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan, bahwa ia
telah berada dekat dengan Tuhan dan dapat dilihat dari Syathahat yang
diucapkannya. Ucapan-ucapan demikian belum pernah didengar dari sufi sebelum
Abu Yazid, misalnya:
لَسْتُ أَتَعَجَّبَ مِنْ حُبِّيْ لَكَ فَأَنَا عَبْدٌ
فَقِيْرٌ
وَلَكِنِّيْ أَتَعَجَّبُ مِنْ حُبِّكَ لِيْ وَأَنْتَ
مَلِكٌ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu karena
aku hanyalah hamba yang hina, tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku. Karena
engkau adalah Raja Mahakuasa”
Tatkala berada
dalam tahapan ittihad, Abu Yazid berkata:
قَالَ : يَا أَبَا يَزِيْدَ إِنَّهُمْ كُلَّهُمْ خَلْقِيْ
غَيْرَكَ فَقُلْتُ: فَأَنْتَ أَنَا وَأَنَا أَنْتَ
Artinya:
“Tuhan berkata, “Semua mereka –kecuali engkau-
adalah makhluk.” Aku pun berkata, “Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau.”
Selanjutnya Abu
Yazid berkata lagi:
فَانْقَطَعَ المُنَاجَةُ فَصَارَ الكَلِمَةُ وَاحِدَةً
وَصَارَ الكُلُّ بِالكُلِّ وَاحِدًا. فَقَالَ لِي: يَا أَنْتَ، فَقُلْتُ بِهِ: يَا
أَنَا، فَقَالَ لِي: أَنْتَ الفَرْدُ. قُلْتُ : أَنَا الفَرْدُ قَالَ لِي: أَنْتَ
أَنْتَ: أَنَا أَنَا
Artinya:
“Konversasi pun terpututs, kata menjadi stu, bahkan
seluruhnya menjadi satu. Ia pun berkata, “Hai engkau, “Aku pun- dengan
perantaraan-Nya enjawab, “Hai Aku, “Ia berkata, “Engkaulah yang satu. “engakau
adalah Engkau.” Aku balik menjawab, “Aku adalah Aku.”
إِنِّيْ أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي
Artinya:
“Tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Suatu
ketika seseorang melewati rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu, Abu Yazid
bertanya, “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab, “Abu Yazid”, Abu Yazid
berkata. “Pergilah, di rumah ini tidak ada, kecuali Allah yang maha kuasa dan
Mahatinggi.” Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia
dekat sekali dengan Tuhan. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid
ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. Ia tetap meminta
bersatu dengan Tuhan. Ini kelihatan dari kata-katanya,
“Hiasilah aku dengan keesaan-Mu.” Permintaan Abu
Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah
persatuan, sebagaimana terungkap dari kata-kata
berikut ini, “Abu Yazid, semuanya kecuali engkau
adalah makhluk-Ku.” Akupun berkata, aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan
aku adalah Engkau.”[9]
Ucapan-ucapan
Abu Yazid diatas kalau diperhatikan secara sepintas memberikan kesan bahwa ia
syirik kepada Allah. Karena itu didalam sejarah ada sufi yang ditangkap dan
dipenjarakan karena ucapannya membingungkan golongan awam. Sebenarnya apa yang
dikatakan oleh Abu Yazid. Menurut penulis bukan berarti bahwa Abu Yazid sebagai
tuhan, akan tetapi kata-kata itu adalah suara tuhan yang disalurkan melalui lidah
Abu Yazid yang sedang dalam keadaan fana`an nafs.
Abu
Yazid tidak mengakui dirinya sebagai tuhan seperti Fir`aun. Proses ittihad di
sisis Abu yazid adalah naiknya jiwa manusia ke hadirat Allah, bukan melalui
reinkarnasi, sirnanya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangannya yang
disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu yakni Allah. Bahkan dia tidak
melihat dan menyadari dirnya sendiri, karena dirinya terlebur dalam dia yang
dilihat.[10]
D.
Penjelasan mengenai Hulul dan tokohnya
Secara bahasa, “hulul “ berasal dari kata “halla yahllu-hululan”,
yang berarti menempati. Al-hulul dapat berarti menempati suatu tempat. Jadi,
hulul secara bahasa berarti “Tuhan berarti mengambil tempat dari tubuh manusia
tertentu, yang telah lenyap sifat kemanusiaannya melalui fana’. Adapun menurut
istilah, hulul berarti paham yang mengatkan bahwa Tuhan memiliki tubuh –tubuh
manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat
kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Menurut Al-Hallaj, antara manusia dan Tuhan tedapat jarak seehingga
masing-masing mempunyai hakikat sendir-sendiri. Akan tetapi , antara dua
hakikat itu terdapat kesamaan. Dengan demikian, bila kesamaan itu telah semakin
mendekat, kaburlah garis pemisah antara keduanya. Ketika itu terjadilah
“persatuan” (hulul) antara Al-Haqq dan manusia.
Pemikiran Al-Hallaj tentang kebersatuan anatara manusia dan Tuhan
yang kemudian mengkristal dalam terma al-hulul salah satu bentuk ittihad.
Ittihad disini merupakan tingkatan dalam tasawuf, keteika seorang sufi merasa
telah bersatu dengan Tuhan, dan inilah yang dimaksud para sufi telah mencapai
tingkatan fana’. Fana adalah tingkatan diamana seseorang hilang kesadaran akan
tubuh jasmaninya, karena telah musnah.setelah kehilangan kesadaran akan
jasmaninya, seorang sufi merasa telah bersatu dengan Tuhan. Dan perasaan inilah
yang disebut dengan Baqa’. Pemikiran al-hulul Dario Al-Hallaj bermula dari
pendapatnya yang mengatakan bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada sifat-sifat
ketuhanan. Untuk dasar pemikiran ini ia menta’wilkan ayat al-Quran yang
menyerukan agar malaikat bersujud kepada Adam. Karwna yang diberi sujud adalah
Allah maka Al-Hallaj memahami bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada unsur
ketuhanan.
Ia berpendapat demikian karena sebelum tuhan menjadiakan mahkluk,
ia melihat diri-Nya sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan dan cinta inilah
yang menjadi sebab wujud dan sebab dari
yang banyak ini. Ia mengeluarkan dari yang tiada dalam bentuk (copy) dari
diri-Nya yang mempunyai segala sifat dan
nama-Nya. Bentuk (copy-an) itulah adalah Adam. Dia memuliakan dan pada diri
Adamlah, Allah muncul dalam bentuknya.
Teori tersebut tampak dalam syairnya:
“Mahasuci Dzat yang dengan sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia
sifat ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan bagi mahkluk-nya dengan
nayta dalam bentuk manusia.
Dalam syair diatas, tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar
ketuhanan, yaitu lahut dan nasut. Dua istilah ini tampaknya diambil Al-Hallaj
dari filsafat Kristen yang mengatakan bahwa Allah mengandung tabiat kemanusiaan
didalamnya.[11]
Abu Nasr al-Tusi di dalam bukunya “Al-Luma”, mengatakan bahwa Tuhan
memiliki tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya,
setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh itu dilenyapkan.[12]
Menurut
al-Hallaj manusia mempunyai sifat dasar yang ganda, yaitu sifat ketuhannan atau
lahut dan sifat kemanusiaan atau nasut. Demikian juga halnya tuhan memiliki
sifat ganda, yaitu sifat-sifat Ilahiyat dan lahut dan sifat Insaniyah atau
nasut. Apabila seseorang telah dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya
dan mengembangkan sifat-sifat Ilahiyatnya melalui fana, maka Tuhan akan
mengambil tempat dalam dirinya dan terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan dan
inilah yang dimaksud dengan hulul.
Paham Hulul diajarkan oleh Husein Ibnu Mansur al-Hallaj. Ia lahir
pada tahun 858 M di kota Persia, karena ucapan-ucapannya yang ganjil itu
menyebabkan ia dihukum mati dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat dan
membahayakan. Selain itu ia oleh pemerintah juga dituduh mempunyai hubungan
erat dengan golongan oposisi ekstrim yakni golongan Syi’ah dan Qaramithah.
Akhirnya pada tahun 922 M ia dijatuhi hukuman mati. Al-Hallaj kemudian dibunuh
dan jasadnya dibakar akhirnya ia dibuang ke sungai Tigris. Oleh karena itu, masalah
Ittihad dan Hulul di kalangan sufi tidak banyak dibicarakan. Mungkin ini
disebabkan dari pembunuhan tokoh sufi yaitu al-Hallaj. Sehingga banyak tokoh
sufi takut mempersoalkan masalah tersebut, agar tidak mempunyai nasib yang
sama.[13]
Selain al-Hallaj ada juga seorang
tokoh Sufi yang ajarannya mirip dengan al-Hulul (Wihdatul Wujud) yaitu Syekh
Siti Jenar. Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit,
Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga
salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara
pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai
asal-usul Syekh Siti Jenar.
[1] Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari’ah dengan Sufisme, Cet
1, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997, hlm. 47.
[2] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka
Setia, 2000, hlm. 160.
[3] Drs. Tamami HAG. M.Ag. Psikologi Tasawuf, Cet 1, Bandung:
Pustaka Setia, 2011, hlm. 123-124.
[4] Muhammad Abd. Haq Ansari, op. Cit., hlm. 47.
[5] Drs. Tamami HAG. M.Ag. op. Cit., hlm. 126.
[6] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, op. Cit., hlm. 159.
[7] Wardana, Abu Yazid al-Bustami, Makasar: Makalah PPS Alaudin,
2001, hlm. 7.
[8] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Loc. Cit., hlm. 133.
[9] www.jaringskripsi.wordpress.com/2009/09/27/abu-yazid-al-bustami-dengan-konsep-tasawufnya/
[10] Drs. Tamami HAG. M.Ag. Loc. Cit., hlm. 130.
[11] Abu Bakar Aceh, Sufi dan Tasawuf Semantik.
[12] Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Cet V, Bandung: Pustaka
Setia, 2010, hlm. 269.
[13] Drs. H. A. Mustofa, op. Cit., hlm. 269-274.
Komentar
Posting Komentar