Langsung ke konten utama

Tasawuf, Abu Yazid al-Bustami



Di dalam ajaran tasawuf Abu Yazid dikenal istilah Fana dan Baqa, sebelum membahas mengenai Baqa perlu kiranya kita mengetahui apa itu fana. Secarah harfiah fana berarti meninggal dan musnah. Dalam kaitannya dengan sufi, sebutan tersebut biasanya digunakan dengan proposisi: fana’an, sufi, yang artinya kosong dari segala sesuatu, melupakan atau tidak menyadari sesuatu.[1] Dari segi bahasa fana berasal dari bahasa Arab, yakni faniya-yafna yang berarti musnah, lenyap, hilang, atau hancur. Dalam istilah tasawuf fana adakalanya diartikan sebagai keadaan normal yang luhur. Abu Bakar Al-Kaladzabi, (W.378 H/988M) mendefinisikan fana sebagai “hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, dan tidak ada pamrih dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar, dan ia telah menghilangkan semua kepentingan ketika berbuat sesuatu”.[2]
 Fana juga berarti memutuskan hubungan selain Allah SWT, dan mengkhususkan untuk Allah SWT dan bersatu dengan-Nya. Adapun arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan, dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat tercela. Mustafa Zuhri mengatakan bahwa fana adalah lenyapnya indrawi atau ke-basyariyah-an, yakni sifat manusia yang menyenangi syahwat dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, tiada lagi melihat apapun dari alam wujud ini sebab ia telah fana dari alam cipta atau dari alam makhluk.
Di dalam kitab Al-Jawahir, fana adalah kemampuan seorang hamba memandang bahwa Allah SWT berada pada segala sesuatu. Dengan demikian, fana bagi seorang sufi adalah mengharapkan kematian itera (kematian itera adalah sifat zuhud yang “mematikan” segala nafsu buruk yang ada dalam diri manusia, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta tanpa sedikit pun ada kebencian, sebagaimana Mahabbahnya Rabi’ah), yang tersisa hidup di dalam dirinya hanyalah Tuhan. Jadi, seorang sufi dapat bersatu dengan Tuhan apabila terlebih dahulu meleburkan dirinya. Selama ia masih sadar akan dirinya, ia tidak akan bersatu dengan Tuhan.[3]
Peleburan diri tersebut senantias diiringi dengan baqa, yang berarti to live and survive (hidup dan terus hidup). Baqa berasal dari kata baqiya yang artinya adalah tetap, sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah SWT. Dalam kaitan dengan sufi, sebutan baqa biasanya dengan proposisi: baqa bi yang berarti diisi dengan sesuatu, hidup atau bersama sesuatu.[4] Di dalam tasawuf fana dan baqa beriringan, sebagaiman yang dinyatakan oleh para ahli tasawuf, “Apabila tampak nur ke-baqa-an, fana-lah yang tiada, dan baqa-lah yang kekal. Tasawuf itu ialah fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya, karena hati mereka bersama Allah SWT.”
Sedang akibat dari fana adalah baqa, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya (fana) sifat basyariyah, yang kekal adalah sifat-sifat ilahiyah. Pencapaian Abu Yazid ke tahap fana terjadi setelah meninggalkan segala keinginan selain keinginan kepada Allah SWT, seperti tampak dalam cerita:
“Setelah Allah menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar puas dari-Nya. Maka diriku dicap dengan keridhaan-Nya. Engkaulah yang aku inginkan, jawabku. Karena Engkau lebih utama daripada anugerah lebih besar dari kemurahan, dan melalui Engkau, aku mendapat kepuasan, dan melalui Engkau, aku mendapat kepuasan melalui diri-Mu.”
Jalan menuju fana menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan, ia bertanya:
“Bagaimana caranya agar aku sampai pada-Mu? Tuhan menjawab, ‘Tinggalkan diri (nafsu) dan kemarilah’.”
Paham baqa tidak bisa dipisahkan dengan paham fana karena keduanya berpasangan. Jika seorang sufi sedang mengalami fana, maka pada saat itu pula ia mengalami baqa. Untuk mencapai tahap seperti ini seorang sufi harus mengikuti tahap persiapan. Ia harus memiliki iman yang besar, menjauhi perbuatan munkar, menjauhi dosa-dosa besar dan menjauhi dosa-dosa kecil sebanyak mungkin. Ia harus shalat wajib dan berbagai kewajiban yang disyariatkan kepadanya dan menjalankan segala sunnah Rasul yang terpuji.
Dengan demikian, sesuatu di dalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal, hilang kejahilan akan timbul ilmu, hilang sifat buruk akan timbul sifat baik, hilang maksiat akan timbul taqwa, yang tinggal dalam dirinya adalah sifat-sifat yang baik.[5]
A.    Tokoh pencetus konsep al-Fana dan Baqa
Abu Yazid al Bustami lahir di Bustam, bagian Timur Laut Persia pada tahun 188 H/874 M dengan nama kecil Taifur. Sedangkan nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa bin Syurusan al-Bustami. Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster, kemudian masuk dan memeluk agama Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid termasuk golongan menengah, namun mereka memilih untuk hidup sederhana.[6]
Sejak dalam kandungan ibunya, Abu Yazid sudah memiliki kelebihan. Menurut ibunya, apabila ia memakan makanan yang diragukan kehalalannya maka jabang bayinya akan memberontak dan ibunya akan memuntahkan makanan tersebut.
Saat menginjak remaja, Abu Yazid terkenal sebagai murid yang pandai dan selalu taat pada perintah agama dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Perlu berpuluh-puluh tahun bagi Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi. Sebelum menjadi sufi, ia terlebih dulu menjadi seorang faqih dari madzhab Hanafi. Gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al-Sindi dari India. Abu Yazid mendapatkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya dari dia. Setelah menjadi seorang faqih, Abu Yazid kemudian menjadi seorang zahid selama 13 tahun. Ia mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, dengan sedikit makan, minum dan tidur. Baginya, zahid itu adalah seoarang yang telah menyediakan dirinya untuk hidup berdekatan dengan Allah. Hal ini berjalan melalui tiga fase, yaitu zuhud terhadap dunia, zuhud terhadap akhirat dan zuhud terhadap selain Allah. Dalam fase terakhir ini ia berada dalam kondisi mental yang menjadikan dirinya tidak mengingat apa-apa lagi selain Allah.
Karena ajaran yang dibawa berbeda dengan ajaran-ajaran tasawuf sebelumnya, ia banyak ditentang oleh ulama Fiqh dan Kalam sehingga menyebabkan ia keluar masuk penjara. Meski demikian, ia memperoleh banyak pengikut yang percaya kepada ajaran yang dibawanya. Pengikut-pengikutnya menamakannya Taifur. Kata yang diucapkannya seringkali mempunyai arti yang begitu mendalam, sehingga jika ditangkap secara lahir akan membawa kepada syirik, karena mempersekutukan antara Tuhan dengan manusia.
Abu Yazid meninggal dunia pada tahun 261 H/974 M di Bustam. Makamnya masih ada hingga saat ini. Makamnya yang terletak di tengah kota menarik banyak pengunjung dari berbagai tempat. Pada tahun 1313 M, didirikan di atasnya sebuah kubah yang indah oleh seorang Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda atas nasehat gurunya Syekh Syafruddin, salah seoarang keturunan dari Bustam.

B.     Penjelasan mengenai Musyahadah dan tokohnya
Musyahadah dalam istilah sufiah adalah keadaan hati (bathin) hamba itu merasakan berhadapan dengan Allah SWT. Ia merasakan Allah SWT itu ibarat berada dihadapannya. Tetapi bukanlah hakikatnya demikian karena mustahil dan tidak akan terjadi Allah SWT berada di hadapannya karena Allah SWT bukan massa yang mengambil ruang. Artinya hanya ia merasakan hampirnya ke Allah SWT, ingat dia dengan kebijakan Syuhud dzauq, maka merasailah seolah-olah Allah SWT itu berhadap-hadapan dengannya.
Musyahadah itu adalah nampaknya Allah SWT pada hambanya dimana seorang hamba itu tidak melihat apapun didalam beribadah itu adalah dalam pengertian umum, melainkan dia hanyalah berkeyakinan bahwa dirinya telah berhadapan langsung dengan Allah Swt. "Musyahadah artinya runtuhnya runtuh secara pasti." Musyahadah inilah yang meruntuhkan hijab dan bukan merupakan wujud dari keruntuhan hijab itu.
Runtuhnya hijab diikuti dengan musyahadah. Ada tiga derajat musyahadah, yaitu:
1. Musyahadah ma'rifat, yang berlalu di atas batasan ilmu, dalam cahaya wujud dan berada dalam kefanaan kebersamaan. Ini merupakan landasan golongan ini, bahwa ma'rifat di atas ilmu. Ilmu menurut mereka adalah pengetahuan tentang data, sedangkan ma'rifat merupakan penguasaan tentang sesuatu dan batasannya. Dengan begitu ma'rifat lebih tinggi daripada ilmu. Ada pula yang mengatakan bahwa amal orang-orang yang berbuat baik berdasarkan ilmu, sedangkan amal orang-orang yang taqarrub berdasarkan ma'rifat. Di satu sisi pendapat ini bisa dibenarkan, tapi di sisi lain dianggap salah. Orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang taqarrub beramal berdasarkan ilmu memperhatikan hukum-hukumnya. Sekalipun ma'rifatnya orang-orang yang taqarrub lebih sempurna daripada orang-orang yang berbuat baik, toh keduanya sama-sama ahli ma'rifat dan ilmu. Orangorang yang berbuat kebaikan tidak akan menyingkirkan ma'rifat dan orang-orang yang taqarrub tetap mem-butuhkan ilmu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menasihati Mu'adz bin Jabal, "Engkau akan menemui suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah seruanmu yang pertama kepada mereka adalah sya-hadat la ilaha Wallah. Jika mereka sudah mengetahui Allah, kabarkan-lah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam." Mu'adz bin Jabal harus membuat mereka tahu tentang Allah sebelum menyuruh mereka mendirikan shalat dan mem-bayar zakat. Tidak dapat diragukan bahwa ma'rifat seperti ini tidak seperti ma'rifatnya orang-orang Muhajirin dan Anshar. Manusia ber-beda-beda dalam tingkat ma'rifatnya.
2. Musyahadah dengan mata kepala, yang memotong tali kesaksian, mengenakan sifat kesucian dan mengelukan lidah isyarat. Derajat ini lebih tinggi daripada derajat pertama. Sebab derajat pertama merupakan kesaksian kilat yang berasal dari ilmu mengenai tauhid, sehingga orangnya dapat melihat semua sebab. Sedangkan orang yang ada dalam derajat ini tidak memiliki tali kesaksian, bebas dari sifat-sifat jiwa, dan sebagai gantinya dia mengenakan sifat kesucian serta lidahnya tidak membicarakan isyarat kepada apa yang disaksikannya. Ini merupakan kesaksian wu jud itu sendiri, tanpa disertai kilat dan cahaya, yang berarti derajatnya lebih tinggi.
3. Musyahadah kebersamaan, yang menarik kepada kebersamaan, yang mencakup kebenaran perjalanannya dan menumpang perahu wujud. Menurut Syaikh, orang yang ada dalam derajat ini lebih mantap dalam kedudukan musyahadah, kebersamaan dan wujud serta lebih mampu membawa beban perjalanannya, yang berupa berbagai macam pengungkapan dan ma'rifat.
Sesungguhnya musyahadah yang sempurna dihasilkan apabila telah sempurna suluknya, sempurna mencapai maqam fana Af'al, fana Sifat, fana Asma 'dan fana Zat. Yakni dasarnya adalah, apabila telah sempurna kesucian nafsu yang yang menghalang dari ingatan kepada Allah Taala. Musyahadah adalah terbuka hijab alam bathin dengan Nur Makrifah dan ketika itu tajallilah Zat Allah  di alam gaib dan Allah melihat dia di lingkungan dzahir. Dan ketika itu ia melihat rahasia ketuhanan dan ALlah melihat penghambaannya meliputi dzahir dan bathin.
C.    Penjelasan mengenai Ittihad dan tokohnya
Ittihad secara bahasa berasal dari kata ittahada-yattahidu, yang artinya (dua benda) menjadi satu, yang dalam istilah para sufi merasa dirinya bersatu dengan Tuhan.[7] Tahapan ini adalah tahapan yang dialami seorang sufi setelah ia melalui tahapan fana dan baqa. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya.[8]
Para sufi selalu ingin lebih dekat lagi dengan Tuhan, ingin bersatu dengan Tuhan. Mereka berusaha melupakan diri dan memusatkan kesadaran pada diri Tuhan. Mereka pun sampai ke tingkat fana’, hancur kesadaran tentang dirinya dan tinggal kesadarannya tentang diri Tuhan. Yang terakhir ini disebut baqa’. Dengan hancurnya kesadaran para sufi tentang dirinya dan tinggal kesadaran mereka tentang diri Tuhan, mereka akhirnya sampai pada tingkat ittihad, bersatu dengan Tuham. Di sini pada sufi sampai pada tujuan akhirnya. Mereka telah sampai ke Tuhan, bahkan bersatu dengan Tuhan, dasar dari segala dasar.
Dengan mengutip A.R. Baidlawi, Harun Nasution memaparkan, dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud, meskpiun ada dua wujud yang berpisah satu dengan yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran antara yang mencintai dan yang dicintai, atau dengan kata lain antara sufi dengan Tuhan. Dalam ittihad, identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu. Karena fana’-nya, sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan.
Ketika sampai ke ambang pintu ittihad, dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syathahat (ucapan teopatis). Dengan fananya Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan, bahwa ia telah berada dekat dengan Tuhan dan dapat dilihat dari Syathahat yang diucapkannya. Ucapan-ucapan demikian belum pernah didengar dari sufi sebelum Abu Yazid, misalnya:
لَسْتُ أَتَعَجَّبَ مِنْ حُبِّيْ لَكَ فَأَنَا عَبْدٌ فَقِيْرٌ
وَلَكِنِّيْ أَتَعَجَّبُ مِنْ حُبِّكَ لِيْ وَأَنْتَ مَلِكٌ قَدِيْرٌ
Artinya:
“Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu karena aku hanyalah hamba yang hina, tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku. Karena engkau adalah Raja Mahakuasa”
Tatkala berada dalam tahapan ittihad, Abu Yazid berkata:
قَالَ : يَا أَبَا يَزِيْدَ إِنَّهُمْ كُلَّهُمْ خَلْقِيْ غَيْرَكَ فَقُلْتُ: فَأَنْتَ أَنَا وَأَنَا أَنْتَ
Artinya:
“Tuhan berkata, “Semua mereka –kecuali engkau- adalah makhluk.” Aku pun berkata, “Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau.”
Selanjutnya Abu Yazid berkata lagi:
فَانْقَطَعَ المُنَاجَةُ فَصَارَ الكَلِمَةُ وَاحِدَةً وَصَارَ الكُلُّ بِالكُلِّ وَاحِدًا. فَقَالَ لِي: يَا أَنْتَ، فَقُلْتُ بِهِ: يَا أَنَا، فَقَالَ لِي: أَنْتَ الفَرْدُ. قُلْتُ : أَنَا الفَرْدُ قَالَ لِي: أَنْتَ أَنْتَ: أَنَا أَنَا
Artinya:
“Konversasi pun terpututs, kata menjadi stu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Ia pun berkata, “Hai engkau, “Aku pun- dengan perantaraan-Nya enjawab, “Hai Aku, “Ia berkata, “Engkaulah yang satu. “engakau adalah Engkau.” Aku balik menjawab, “Aku adalah Aku.”
إِنِّيْ أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي
Artinya:
“Tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
Suatu ketika seseorang melewati rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu, Abu Yazid bertanya, “Siapa yang engkau cari?” Orang itu menjawab, “Abu Yazid”, Abu Yazid berkata. “Pergilah, di rumah ini tidak ada, kecuali Allah yang maha kuasa dan Mahatinggi.” Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya  ditolak  Abu  Yazid.  Ia tetap  meminta  bersatu  dengan  Tuhan.  Ini  kelihatan dari kata-katanya, “Hiasilah aku dengan  keesaan-Mu.”  Permintaan Abu   Yazid   dikabulkan  Tuhan  dan  terjadilah  persatuan, sebagaimana  terungkap  dari  kata-kata  berikut  ini,  “Abu Yazid,  semuanya  kecuali  engkau adalah makhluk-Ku.” Akupun berkata, aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau.”[9]
Ucapan-ucapan Abu Yazid diatas kalau diperhatikan secara sepintas memberikan kesan bahwa ia syirik kepada Allah. Karena itu didalam sejarah ada sufi yang ditangkap dan dipenjarakan karena ucapannya membingungkan golongan awam. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Abu Yazid. Menurut penulis bukan berarti bahwa Abu Yazid sebagai tuhan, akan tetapi kata-kata itu adalah suara tuhan yang disalurkan melalui lidah Abu Yazid yang sedang dalam keadaan fana`an nafs.
Abu Yazid tidak mengakui dirinya sebagai tuhan seperti Fir`aun. Proses ittihad di sisis Abu yazid adalah naiknya jiwa manusia ke hadirat Allah, bukan melalui reinkarnasi, sirnanya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangannya yang disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu yakni Allah. Bahkan dia tidak melihat dan menyadari dirnya sendiri, karena dirinya terlebur dalam dia yang dilihat.[10]
D.    Penjelasan mengenai Hulul dan tokohnya
Secara bahasa, “hulul “ berasal dari kata “halla yahllu-hululan”, yang berarti menempati. Al-hulul dapat berarti menempati suatu tempat. Jadi, hulul secara bahasa berarti “Tuhan berarti mengambil tempat dari tubuh manusia tertentu, yang telah lenyap sifat kemanusiaannya melalui fana’. Adapun menurut istilah, hulul berarti paham yang mengatkan bahwa Tuhan memiliki tubuh –tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Menurut Al-Hallaj, antara manusia dan Tuhan tedapat jarak seehingga masing-masing mempunyai hakikat sendir-sendiri. Akan tetapi , antara dua hakikat itu terdapat kesamaan. Dengan demikian, bila kesamaan itu telah semakin mendekat, kaburlah garis pemisah antara keduanya. Ketika itu terjadilah “persatuan” (hulul) antara Al-Haqq dan manusia.
Pemikiran Al-Hallaj tentang kebersatuan anatara manusia dan Tuhan yang kemudian mengkristal dalam terma al-hulul salah satu bentuk ittihad. Ittihad disini merupakan tingkatan dalam tasawuf, keteika seorang sufi merasa telah bersatu dengan Tuhan, dan inilah yang dimaksud para sufi telah mencapai tingkatan fana’. Fana adalah tingkatan diamana seseorang hilang kesadaran akan tubuh jasmaninya, karena telah musnah.setelah kehilangan kesadaran akan jasmaninya, seorang sufi merasa telah bersatu dengan Tuhan. Dan perasaan inilah yang disebut dengan Baqa’. Pemikiran al-hulul Dario Al-Hallaj bermula dari pendapatnya yang mengatakan bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada sifat-sifat ketuhanan. Untuk dasar pemikiran ini ia menta’wilkan ayat al-Quran yang menyerukan agar malaikat bersujud kepada Adam. Karwna yang diberi sujud adalah Allah maka Al-Hallaj memahami bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada unsur ketuhanan.
Ia berpendapat demikian karena sebelum tuhan menjadiakan mahkluk, ia melihat diri-Nya sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud  dan sebab dari yang banyak ini. Ia mengeluarkan dari yang tiada dalam bentuk (copy) dari diri-Nya yang mempunyai  segala sifat dan nama-Nya. Bentuk (copy-an) itulah adalah Adam. Dia memuliakan dan pada diri Adamlah, Allah muncul dalam bentuknya.
Teori tersebut tampak dalam syairnya:
“Mahasuci Dzat yang dengan sifat kemanusiaan-Nya membukakan rahasia sifat ketuhanan-Nya yang gemilang. Kemudian kelihatan bagi mahkluk-nya dengan nayta dalam bentuk manusia.
Dalam syair diatas, tampak Tuhan mempunyai dua sifat dasar ketuhanan, yaitu lahut dan nasut. Dua istilah ini tampaknya diambil Al-Hallaj dari filsafat Kristen yang mengatakan bahwa Allah mengandung tabiat kemanusiaan didalamnya.[11]
Abu Nasr al-Tusi di dalam bukunya “Al-Luma”, mengatakan bahwa Tuhan memiliki tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh itu dilenyapkan.[12]
Menurut al-Hallaj manusia mempunyai sifat dasar yang ganda, yaitu sifat ketuhannan atau lahut dan sifat kemanusiaan atau nasut. Demikian juga halnya tuhan memiliki sifat ganda, yaitu sifat-sifat Ilahiyat dan lahut dan sifat Insaniyah atau nasut. Apabila seseorang telah dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dan mengembangkan sifat-sifat Ilahiyatnya melalui fana, maka Tuhan akan mengambil tempat dalam dirinya dan terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan dan inilah yang dimaksud dengan hulul.
Paham Hulul diajarkan oleh Husein Ibnu Mansur al-Hallaj. Ia lahir pada tahun 858 M di kota Persia, karena ucapan-ucapannya yang ganjil itu menyebabkan ia dihukum mati dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat dan membahayakan. Selain itu ia oleh pemerintah juga dituduh mempunyai hubungan erat dengan golongan oposisi ekstrim yakni golongan Syi’ah dan Qaramithah. Akhirnya pada tahun 922 M ia dijatuhi hukuman mati. Al-Hallaj kemudian dibunuh dan jasadnya dibakar akhirnya ia dibuang ke sungai Tigris. Oleh karena itu, masalah Ittihad dan Hulul di kalangan sufi tidak banyak dibicarakan. Mungkin ini disebabkan dari pembunuhan tokoh sufi yaitu al-Hallaj. Sehingga banyak tokoh sufi takut mempersoalkan masalah tersebut, agar tidak mempunyai nasib yang sama.[13]
Selain al-Hallaj ada juga seorang tokoh Sufi yang ajarannya mirip dengan al-Hulul (Wihdatul Wujud) yaitu Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.



[1] Muhammad Abd. Haq Ansari, Merajut Tradisi Syari’ah dengan Sufisme, Cet 1, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997, hlm. 47.
[2] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2000, hlm. 160.
[3] Drs. Tamami HAG. M.Ag. Psikologi Tasawuf, Cet 1, Bandung: Pustaka Setia, 2011, hlm. 123-124.
[4] Muhammad Abd. Haq Ansari, op. Cit., hlm. 47.
[5] Drs. Tamami HAG. M.Ag. op. Cit., hlm. 126.
[6] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, op. Cit., hlm. 159.
[7] Wardana, Abu Yazid al-Bustami, Makasar: Makalah PPS Alaudin, 2001, hlm. 7.
[8] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Loc. Cit., hlm. 133.
[9] www.jaringskripsi.wordpress.com/2009/09/27/abu-yazid-al-bustami-dengan-konsep-tasawufnya/
[10] Drs. Tamami HAG. M.Ag. Loc. Cit., hlm. 130.
[11] Abu Bakar Aceh, Sufi dan Tasawuf Semantik.
[12] Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Cet V, Bandung: Pustaka Setia, 2010, hlm. 269.
[13] Drs. H. A. Mustofa, op. Cit., hlm. 269-274.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia dibalik sosok Fir’aun dan Abu Lahab yang kamu tidak ketahui

Saya sering kali membayangkan dan menginginkan untuk mengetahui sosok para Nabi, dan berhenti pada kesimpulan bahwa secara batin dan spiritual mereka sempurna dengan keimanannya PASTI... !!! dan tak dipungkiri secara fisik mereka akan mengalahkan kegantengan para aktor ya itu benar percayalah. ^^ Hingga akhirnya saya jadi membayangkan sosok sebaliknya seperti Abu Lahab dan Fir'aun, meskipun mereka telah tiada dan berada pada kerugian besar saya khawatir karena sebetulnya bahkan sosok yang telah tiada tersebut  karakternya mewariskan hingga saat ini Na'udzubillahi min dzalik. Ok kali ini saya akan membahas secara singkat ada hal unik dan sangat menarik di balik sosok yang termaktub pada alquran, ialah Fir’aun dan Abu Lahab. A.     Tentang Fir’aun Fir’aun merupakan penguasa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Ia mahir dalam bidang ilmu kimia untuk memproses tanah liat berubah menjadi batu normal. Memang, jika dilihat dari spesifikasi batu yang diguna...