Langsung ke konten utama

Ayat-ayat alqur'an tentang kepemimpinan dan tafsirnya



Tafsir ayat-ayat tentang kepemimpinan
1. Tafsir Q.S. al-Baqarah: 30 & 124
A. (Q.S. al-Baqarah: 30)[1]                                                                                         
واذ قال ربك للملائكة انى جاعل فى الارض خليفة قالوا اتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال انى اعلم مالاتعلمون
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahakan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
            Ayat ini bercerita mengenai  keputusan Allah kepada para malaikat tentang rencana-Nya menciptakan manusia di bumi. Allah menyampaikan berita ini kepada para malaikat karena nantinya mereka akan dibebani sekian banyak tugas menyangkut manusia. Mendengar rencana tersebut para malaikat bertanya tentang makna penciptaan tersebut, mereka menduga bahwa khalifah ini (manusia) akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, dimana ada makhluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, pasti makhluk itu berbeda dengan mereka yang selalu
            Mendengar pertanyaan mereka Allah Swt menjawab singkat tanpa membenarkan atau menyalahkan karena memang akan ada di antara yang diciptakan-Nya berbuat seperti yang diduga malaikat. Allah menjawab singkat, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
            Perlu dicatat bahwa kata “khalifah” pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan.
            Pada intinya, kekhalifahan mengharuskan makhluk yang diserahi tugas itu melaksanakan tugasnya sesuai dengan petunjuk Allah yang memberinya tugas dan wewenang. Kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah pelanggaran terhadap tugas kekhalifahan.
            Yang dimaksud kekhalifahan Adam as dibumi adalah kedudukannya sebagai khalifah atau wakil Allah SWT di bumi ini, untuk melaksanakan perintah-perintah Nya, dan memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala apa yang ada padanya. Dari pengertian ini lahirlah ungkapan yang mengatakan bahwa : “Manusia adalah khalifatullah di bumi”pengertian ini dapat dikuatkan dengan firman Allah :
يداود اناجعلنك خليفىة فى الارض  
Artinya : “Hai Daud, sesungguhnya kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi”.(QS.Shad 38 : 26)
            Sebagaimana kita ketahui Nabi Daud as disamping menjadi nabi juga menjadi raja bagi kaumnya.
            Ayat ini merupakan dalil tentang wajibnya kaum muslimin memilih dan mengangkat seorang pemimpin tertinggi sebagai tokoh pemersatu antara seluruh kaum muslimin yang dapat memimpin ummat untuk melaksanakan hukum-hukum Allah di bumi ini.
            Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki olehtokoh pemimpin yang dimaksudkan itu antara lain ialah : Adil serta berpengetahuan yang memungkinkannya untuk bertindak sebagai hakim dan mujtahid, tidak mempunyai cacat jasmaniah, serta berpengalaman cukup, dan tidak pilih kasih dalam menjalankan hukum-hukum Allah SWT.
            Dalam ayat ini Allah SWT. Menunjukan suatu keistimewaan yang telah dikaruniakannya kepada Adamas yang tidak pernah dikaruniakan kepada makhluk-makhluk Nya yang lain, yaitu ilmu pengetahuan dan kekuatan akal atau daya fikir yang memungkinkannya untuk mempelajari sesuatu dengan sedalam-dalamnya. Dan keistimewaan ini diturunkan pula kepada turunannya, yaitu umat manusia. Oleh sebab itu, manusia (ialah Adam as dan keturunannya) lebih patut dari pada malaikat untuk di jadikan khalifah.  
B. (Q.S. al-Baqarah:124)[2]
واذابتلى ابراهيم ربه بكلمات فاتمهن قال انى جاعلك للناس اماما قال ومن ذريتى قال لاينال عهدى الظلمين
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, maka Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mendapatkan orang-orang zalim.” 
Ayat-ayat yang terdahulu dihadapakan kepada para Ahli Kitab dan menerangkan keingkaran mereka kepada Nabi Muhammad saw. Ayat ini menerangkan tentang Nabi Ibrahim as, Nabi yang merupakan nenek moyang orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang musyrik Mekah, karena itu beliau dimuliakan oleh ketiga golongan itu. Beliau membawa agama yang seasas dengan agama mereka dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tugas Nabi Muhammad saw melanjutkan tugas Nabi-nabi mereka dan tugas Nabi Muhammad saw. Sebagai nabi yang terakhir, yang selalu ditunggu-tunggu kedatanganya oleh mereka sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat didalam kitab suci mereka.
Kemudian Nabi Ibrahim as diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat dengan menugaskan atau  membebaninya dengan perintah-perintah dan larangan-larangan, seperti membangun Ka’bah, mengorbankan anaknya Ismail as., menghadapi raja Namrudz dan sebagainya.
Muhammad Zahraam[3] : Ibrahim as telah di beri oleh Allah SWT bermacam-macam pengalaman ujian-ujian dan cobaan ialah diperintahkan Allah menyembelih anaknya, perjalanan pulang pergi antara Syiria dan Hijaz untuk melihat anak-anak dan isteri-isterinya yang berada di kedua tempat itu.
Allah tidak menerangkan macam-macam kalimat yang telah ditugaskan dan dibebankan kepada Nabi Ibrahim as. Hal ini memberikan petunjuk bahwa tugas dan beban yang telah diberikan Allah itu adalah besar, berat dan banyak. Sekalipun demikian Nabi Ibrahim as telah melaksanakan tugas dan beban itu dengan sebaik-baiknya yang membawanya ke tempat kedudukan yang sempurna.
Firman Allah SWT :
وابرهيم الذي وفي
Artinya : “Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji”
(QS. 53 An Najm : 37)
Perkataan “Sesungguhnya Aku akan menjadikan imam bagi seluruh manusia”, tidak ada hubungannya dengan kalimat sebelumnya, karena tidak ada terdapat kata penghubung (athaf) pada permulaan kalimat tersebut.
Menurut Muhammad Abduh :[4]kalimat tersebut adalah kalimat yang berdiri sendiri, tidak ada hubungannya dengan kalimat sebelumnya. Maksudnya ialah bahwa pangkat imam (nabi dan rasul) adalah semata-mata pangkat yang dianugerahkan Allah SWT. Dan hanya Dia sendiri yang menetapkan kepada siapa pangkat itu akan diberikan Nya. Tidak semua manusia dapat mencapainya sekalipun ia telah melaksanakan segala perintah-perintah Allah dan menghentikan segala larangan-larangan Nya
Dengan perkataan lain bahwa pangkat imam yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Ibrahim as. itu ditetapkan atas kehendak Nya, dan bukan karena Nabi Ibrahim as. Telah menyelesaikan dan menyempurnakan tugas yang diberikan kepadanya, Ibrahim as. Diuji agar ia kenal kepada dirinya, agar ia menyadari bahwa pangkat yang telah diberikan Allah itu sesuai baginya, dan agar ia merasa dirinya mampu melaksanakan tugas dan memikul beban yang telah diberikan itu.
Setelah dianugerahi pangkat “imam” itu, Nabi Ibrahim as berdo’a kepada Allah SWT agar pangkat “imam” itudianugerahkan pula kepada keturunannya dikemudian hari.
Do’a Nabi Ibrahim as ini adalah do’a yang sesuai dengan sunnatullah. Menurut sunnatullah : anak dan keturunannya adalah sambung hidup bagi seseorang. Sesuatu cita-cita yang tidak sanggup dicapai semasa hidup di dunia dan diharapkan agar anak dan keturunan dapat menyampaikannya.
Tugas imam adalah tugas yang suci dan mulia karena pemberian tugas itu bertujuan hendak mencapai cita-cita yang suci dan mulia pula. Ibrahim as merasa dirinya tidak sanggup mencapai semua cita-citanya yang terkandung didalam tugasnya itu selama ia hidup di dunia. Karena itu ia berdo’a kepada Allah SWT. Agar anak cucunya dianugerahi pula pangkat imam dicapai oleh anak cucu dan keturunannya.
Dari ayat di atas dapat difahami pula bahwa cara Nabi Ibrahim berdo’a sesuai dengan sunnah Allah, dan itu adalah cara yang benar, karena itu do’a Ibrahim as itu termasuk do’a yang dikabulkan Allah SWT.
Ternyata do’a Nabi Ibrahim as itu dikabulkan Allah, terbukti dikemudian hari bahwa semua rasul-rasul yang diutus Allah sesudah beliau adalah berasal dariketurunan beliau.
2. Tafsir Q.S. Ibrahim : 4
C. (Q.S. Ibrahim: 4)[5]
وما ارسلنا من رسول الا بلسان قومه ليبين لهم فيضل الله من يشاء ويهدى من يشاء وهو العزيز الحكيم
Artinya: “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat member penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
“Wama arsalna min rosulin illa bilisanin” Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, bilisanin=billugotin yaitu bahwasannya Allah itu mengutus seorang Rasul itu dengan bahasa yang mana bahasanya itu agar kaumnya memahami apa yang datang dari pembicaraannya. Maksudnya adalah bahwasannya seorang pemimpin ia harus bisa memberi pemahaman bagi siapa saja, misalnya seorang pemimpin berbicara dengan yang kemampuan otaknya dibawahnya maka ia harus bisa berbicara dengan lawan bicaranya itu dengan bagaimana bahasa lawan bicaranya agar kaumnya bisa mngerti petuah, petunjuk, perintah, dan apa-apa yang dikehendaki pemimpinnya. Itu berarti seorang pemimpin harus bisa memposisikan dirinya dengan kaumnya.
“Fayudlillu man yasyaa’u wayahdiy man yasyaa’u wahuwa Al-‘Aziizul Hakiim”  Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
Maksudnya adalah bahwasannya bagaimanapun ia (pemimpin) telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyeru kaumnya dan menjelaskan dengan bahasa yang sefasih-fasihnya, sejelas-jelasnya. Usaha mereka pun tergantung Allah, karena jika Allah menghendaki seseorang itu maka orang itu tentu mengikuti yang mengajaknya, atau sebaliknya. Jadi, tidaklah seorang Imam itu terheran ataupun bersedih hati karena ia hanya bertugas menyeru dalam kebaikan , jika yang diajaknya itu  tidak menghiraukannya maka tak apalah karena Allah lah yang menghendaki segala sesuatunya.
3. Tafsir Q.S. al-Anbiya : 73
D. (Q.S. al-Anbiya: 73)[6]
وجعلناهم ائمة يهدون بامرنا واوحينا اليهم فعل الخيرات واقام الصلاة وايتاء الزكاة وكانوالنا عبدين
Artinya: “Dan kami menjadikan mereka sebagi pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami, dan kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada kami mereka menyembah.”
Kami menjadikan ‘mereka’, mereka itu adalah Ibrahim, Ishaq, dan Ya’kub. Allah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin, namun bukan berarti hanya merekalah para Nabi yang Allah jadikan sebagai pemimpin, karena semua Nabi itu adalah diutus dan menjadi seorang pemimpin bagi kaumnya.
Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat baik, dan menyeru untuk melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah kepada Allah. Dari redaksi tersebut jelaslah bahwa mereka sebagai pemimpin mempunyai beberapa syarat diantaranya yang dapat disimpulkan dari ayat tersebut adalah:
1.      bahwa seorang pemimpin itu harus menyeru kepada kebaikan
2.      bahwa pemimpin karena mengajak kepada kebaikan, maka diri mereka dulu yang harus baik atau benar.
Ayat 73 ini[7] menjelaskan upaya mereka (Nabi Ibrahi, Ishaq dan Ya’kub) menyebarluaskan kesalehan itu kepada lingkungan mereka dengan menyatakan: Dan kami telah menjadikan mereka yang Kami sebut nama-namanya itu sebagai teladan-teladan  yang memberi  petunjuk kepada masyarakatnya serta mengantar mereka menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup berdasar perintah Kami dan Kami telah wahyukan kepada mereka pekerjaan kebajikan sehingga mereka dapat melaksanakannya dengan sempurna, terutama pelaksanaan shalat dengan baik, sempurna dan bersambung, penunaian zakat sesuai dengan ketentuan-ketentuannya, dan adalah mereka sejak dahulu dan senantiasa hanya kepada Kami saja, tidak kepada siapa pun mereka menjadi pengabdi-pengabdi yakni orang-orang yang mantap dan tulus pengabdiannya.                                                           
Kata mereka pada firman-Nya : wa ja’alnahum/ Kami jadikan mereka dipahami oleh sementara ulama menunjuk nama-nama yang disebut di atas, kecuali Nabi Luth as. Alasan mereka adalah karena Nabi Luth as.  Akan disebut secara khusus pada ayat berikut.                                                                   
Kata  a’immah adalah bentuk jamak dari imam seakar dengan kata amam yang berarti di depan dan umm yang berarti ibu. Siapa yang di depan biasanya diikuti, atau dirujuk. Dari sini umm/ ibu menjadi tempat rujukan/kembali anak. Imam pun demikian. Ia diteladani dalam sikap dan perbuatannya. Nabi saw, bersabda: “Tidak lain tujuan dari adanya imam, kecuali agar ia diteladani.                                          
Kata yahduna pada ayat di atas tidak dirangkaikan dengan kata ila. Ini mengandung makna tersendiri karena seperti yang penulis kemukakan ketika menafsirkan firman-Nya: ibdina ash-Shirath al-Mustaqim dalam surat al-Fatihah, bahwa sementara ulama berpendapat bahwa bila kata itu disertai dengan kata ila (menuju/kepada) maka ia mengisyaratkan bahwa yang diberi petunjuk telah berada dalam jalan yang benar-kendati belum sampai tujuan-dan karena itu ia masih diberi petunjuk yang lebih jelas guna menjamin sampainya ke tujuan. Jika pendapat ini diterima, maka ayat diatas mengisyaratkan bahwa yang memberi petunjuk tersebut memiliki kemampuan yang melebihi rata-rata anggota masyarakatnya, sehingga dia membimbing mereka ke arah yang lebih baik dan sempurna.    
Ada juga yang berpendapat bahwa kata bidayah yang menggunakan kata ila, hanya mengandung makna pemberitahuan tetapi bila tanpa ila, maka ketika itu pemberi hidayah tidak hanya menunjuk jalan yang seharusnya ditempuh, tetapi juga mengantar ke jalan tersebut.                                                    
Dengan  menggabung kedua pendapat di atas, kita dapat berkata bahwa seseorang yang menjadi imam haruslah memiliki ke istimewaan melebihi para pengikutnya; dia tidak hanya memiliki kemampuan menjelaskan petunjuk tetapi juga kemampuan mengantar para pengikutnya menuju arah yang baik.       
Firman-Nya: wa auhaina ilaihim fi’l al-khairdi/ dan Kami telah wahyukan kepada mereka pekerjaan kebajikan, dipahami oleh sementara ulama dalam arti Kami perintahkan mereka melakukan perbuatan-perbuatan baik. Pendapat ini tidak diterima oleh ulama lain , seperti Thabathaba’i.Sastrawan dan pakar bahasa Arab, Abdul Qadir al-Jurjani berpendapat bahwa bila Anda misalnya berkata:  yu’jibuni an taqum, maka kata an pada susunan kalimat itu mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan belum lagi berdiri karena makna kalimat tersebut adalah “Saya senang (bila) Anda berdiri,” berbeda jika kalimat tersebut berbunyi    yu’jibuni qiyamuka maka ini berarti mitra bicara telah berdiri. Dengan kalimat kedua ini si pembicara menyampaikan kekagumannya atas berdirinya mitra bicara. Dari sini dipahami bahwa penggalan ayat di atas  bukannya perintah kepada para imam untuk melakukan kebajikan, karena dalam susunan kalimat ayat itu tidak terdapat kata an, tetapi mengandung makna bahwa para imam itu telah melaksanakan tuntunan wahyu Ilahi, dan tuntunan itu telah mendarah daging dalam diri mereka dan menghiasi akhlak dan budi pekerti mereka.Sekaligus ini menjadi isyarat bahwa seorang yang menjadi imam/teladan atau pimpinan hendaknya memiliki kepribadian yang luhur serta akhlak mulia sesuai dengan tuntunan Ilahi.
Adapun alasan mengapa Allah menyuruh untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat adalah sebagai berikut[8]:
Allah menyebutkan shalat dan zakat secara khusus diantara seluruh macam ibadah, karena shalat merupakan bentuk ibadah badaniah yang paling mulia dan zakat merupakan ibadah harta yang paling utama, dan merupakan perkara yang tidak bisa dipisahkan dari ruh, pemaduan kedua ibadah ini merupakan pengagungan terhadap Al-Kholiq dan kasih sayang terhadap makhluk.
Kata “  "وجعلنا هم اىْمةadalah sebagai jawaban atas doa nabi Ibrahim pada surat al-Baqarah ayat: 124 mengenai permintaan nabi Ibrahim kepada Allah agar menjadikan anak cucunya sebagai pemimpin, maka Allah menjawab do’anya dengan menjadikan Ishaq, Ya’kub dan Ismail sebagai pemimpin umat manusia[9].
4. Tafsir Q.S. as-Sajdah : 24
E. (Q.S  As.Sajadah : 24)[10]



Artinya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selema mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
Petunjuk yang datang kepada Bani Israil itu telah membuahkan antara lain lahirnya pemimpin-pemimpin yang wajar diteladani diantara mereka walau demikian ada juga dikalangan Bani Israil yang menolaknya.
Kata Minhum artinya tidak semua Bani Israil dijadikan teladan, ada juga diantara mereka yang tidak demikian bahkan menolak ajaran nabi musa,sehingga terjadi perbedaan pendapat.
Kata “aimmah” adalah  jamak dari kata “imaamun”,imam ia diteladani dalam sikap dan perbuatannya. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Tidak lain tujuan adanya imam kecuali agar ia diteladani.”
Bahwasannya seseorang yang menjadi imam haruslah memiliki keistimewaan atau kemampuan menjelaskan petunjuk, tetaapi juga kemampuan mengantar para pengikutnya menuju arah yang baik.
Melengkapi mengenai persyaratan sebagai seorang pemimpin, surat as-Sajdah ini menambahkan kriteria seorang pemimpin sebagaimana yang telah disebutkan pada surat alaa-Anbiya ayat 73. Bahwasannya disamping tugas seorang pemimpin dalam menyeru kebaikan dan dirinya pula harus baik, maka seorang pemimpin itu haruslah memiliki sifat sabar, dan menjalankan kepemimpinannya harus diniatkan berdasarkan lillahi ta’ala.
            Setelah  mereka bersabar menjalankan perintah-perintah Allah, dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, membenarkan rasul-rasulnya, dan mengikuti petunjuk yang dibawakan oleh para rasul kepada mereka, maka jadilah diantara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk kepada kebenaran dengan perintah Allah, menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada kebajikan, serta mencegah kemungkaran. Kemudian setelah mereka mengganti, mengubah serta menakwilkan ayat-ayat Allah (dengan takwilan yang menyimpang), maka dicabutlah kedudukan itu dari mereka dan jadilah hati mereka keras. Mereka mengubah-ubah  kalimat-kalimat Allah dari tempat-tempatnya, maka tiada lagi amal yang shaleh dan tiada akidah lagi yang benar (pada mereka).[11]
Sebagian ulama mengatakan bahwa dengan bekal sabar dan keyakinan, kepemimpinan dapat diperoleh. Karena itulah Allah Swt berfirman : 
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian ; dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama). (Al-Jasiyah: 16-17).
Qatadah dan sufyan mengatakan bahwa hal itu terjadi setelah mereka bersabar dalam menjauhi keduniawian, hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Ibnu Shaleh. Sufyan mengatakan bahwa demikianlah keadaan mereka dan tidaklah patut bagi seorang lelaki menjadi  pemimpin yang dianuti sebelum ia menjauhi keduniawian. Waki’mengatakan, Sufyan pernah mengatakan bahwa sudah merupakan suatu keharusan bagi agama didampingi oleh ilmu,sebagaimana tubuh memerlukan roti (makanan). Ibnu Bintisy Syafii mengatakan, ayahnya belajar pada pamannya atau pamannya belajar pada ayahnya (yang lain asar berikut), bahwa Sufyan pernah ditanya mengenai ucapan Sayyidina Ali r.a. yang mengatakan bahwa kedudukan sabar dalam iman sama dengan kedudukan kepala bagi tubuh.                        
Bahwasannya seseorang yang menjadi imam haruslah memiliki keistimewaan atau kemampuan menjelaskan petunjuk, tetapi juga kemampuan mengantar para pengikutnya menuju arah yang baik. .
5. Tafsir Q.S. Yasin : 21
F. (Q.S. Yasin: 21)[12]
اتبعوا من لا يسئلكم اجرا وهم مهتدون
Artinya : “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Berdasarkan ayat di atas, maka kita itu haruslah melihat contoh mereka para anbiya yang mana mereka itu tidak meminta apa-apa. Artinya apa bahwasannya seorang pemimpin itu pantasnya jika ia berjuang segala macam keperluannya sebagai sarana ia memimpin ialah dari dirinya sendiri. Dia tak mengharap balas dan upah apapun, lihatlah perjuangan Nabi Muhammad SAW justru hartanya dan segala macam sarana dakwahnya ia habiskan dari hartanya sendiri bersama Siti Khadijah karomallohu wajhah. Namun bukan berarti jika seorang pemimpin itu tidak mengharap balas, ia berarti harus menolak kebaikan dari orang lain, maka tidaklah seperti itu.
Ibnu Ishaq dalam riwayatnya yang bersumber dari Ibnu Abbas, Ka’bul Ahbar dan Wahb Ibnu Munabbih[13] telah mengatakan bahwa sesungguhnya penduduk negeri tersebut hampir saja membunuh utusan-utusan mereka, tetapi terlanjur datang seorang laki-laki dari pinggiran kota yang datang berlari dengan cepat untuk menolong rasul-rasul itu dari ancaman kaumnya.
Menurut mereka bertiga, lelaki tersebut bernama Habib, seorang tukang tenun yang sakit-sakitan. Sakit yang dideritanya adalah lepra, dia seorang yang banyak bersedekah, separo dari hasil kerjanya selalu ia sedekahkan,dan dia adalah seorang yang berpikiran lurus.
Ibnu Ishaq telah mengatakan dari seorang lelaki yang senama dengannya dari Al-Hakam, dari Miqsam atau dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa nama lelaki yang disebutkan dalam surat Yasin adalah Habib, dia menderita penyakit lepra yang cukup parah.
As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim Al-Ahwal, dari Abu mujlas, bahwa nama lelaki itu adalah Habib Inbu Murri.
Syabib Ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa nama lelaki yang sebutkan didalam surat Yasin adalah Habibun Najjar, lalu lelaki itu dibunuh oleh kaumnya. As-saddi mengatakan, lelaki itu adalah seorang tukang celup kain.
Umar Ibnul Hakam mengatakan bahwa Habib adalah seorang Uskup.
Qatadah mengatakan ia seorsng ahli ibadah, yang menghabiskan usianya untuk beribadah di salah satu gua yang ada dipinggiran negeri tersebut.
“Ia berkata, “hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”.(Yasin: 20).
Dia menganjurkan kepada kaumnya agar mengikuti para rasul tersebut yang datang kepada mereka memberi peringatan.
“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu.” (Yasin: 21).
Yakni upah sebagai imbalan dari penyampaian risalahnya kepada mereka.
“Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Yasin: 21).
Mereka mendapat petunjuk dari Allah Swt.,karenanya mereka menyeru kalian untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

6. Tafsir Q.S. Shad : 26
G. (Q.S. Shad : 6)[14]
Artinya : “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi ini, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
            Perkatan Allah “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi ini.” Ada dua pendapat mengenai ini, yaitu:
1.      khalifah bagi Allah
2.      khalifah bagi orang-orang setelah kamu, karena pada kekhalifahan sebelumnya adalah kekhalifahan malik
“Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak.” Haq  adalah :
a.       Memberikan keputusan bagi manusia dengan adil, benar, atau jelas
b.       Memberikan hukum dengan sebenarnya
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu,” jangan menyertakan hawa nafsu ketika memutuskan suatu perkara, maka jika hati sebenarnya memiliki rasa benci kepada yang bersangkutan yang hendak dihukumi, atau rasa marah terhadapnya. Maka tidaklah pemimpin itu menampakkan atau menyertai kemarahannya.
“Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” yaitu hawa nafsu itu akan menyesatkan kita dari jalan Allah :
a.       Dari agama Allah
b.      Dari ta’at kepada Allah
“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” Ada yang mengatakan bahwa maksud dari perkataannya adalah melupakan yaumul hisab itu adalah meninggalkan amal untuk bekalan di yaumul hisab. Adapula maksudnya adalah mereka meninggalkan iman.
 Ini merupakan perintah  dari Allah Swt. Kepada para penguasa agar mereka memutuskan perkara diantara manusia dengan kebenaran yang diturunkan dari sisi-Nya. Dan janganlah mereka menyimpang darinya, yang berakibat mereka akan sesat dari jalan Allah. Allah Swt.telah mengancam orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan yang melupakan hari perhitungan, yaitu dengan ancaman yang tegas dan azab yang keras.
As-saddi [15]mengatakan bahwa makna ayat ialah bagi mereka azab yang berat disebabkan mereka meninggalkan amal perbuatan untuk bekal mereka dihari perhitungan. Pendapat ini lebih serasi dengan makna lahiriyah ayat.
Setelah mendapat pengalaman berharga, Allah Sw[16]t.  Mengangkat Daud as.sebagai khalifah di bait al-maqdis, kata khalifah  pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Pada masa Nabi Daud as, terjadi peperangan antara dua penguasa besar Thalut dan Jalut. Daud  as  Adalah salah  seorang anggota pasukan Thalut. Kepandaianya menggunakan ketapel mengantarnya berhasil membunuh Jalut, dan setelah keberhasilannya itu serta telah meninggalnya Thalut, Allah mengangkatnya sebagai khalifah menggantikan Thalut.
Mengemukakan bahwa terdapat persamaan antara ayat yang berbicara tentang Nabi daud as[17]. Dengan ayat yang berbicara dengan pengangkatan Nabi Adam as. Sebagai khalifah. Kedua tokoh itu diangkat Allah sebagai khalifah di bumi dan keduanya dianugerahi pengetahuan. Keduanya pernah tergelincir dan keduanya memohon ampunan lalu diterima permohonan ampunannya oleh Allah.
Sampai disini kita dapat memperoleh dua kesimpulan.
Ø  Pertama kata khalifah digunakan Al qur’an untuk siapa yang diberi kekuasaan mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. Nabi Daud as. (947-1000 SM) mengelola wilayah Palestina dan sekitarnya, sedang Adam as. Secara potensial atau aktual mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.
Ø  Kedua, seorang khalifah berpotensi bahkan secara aktual dapat melakukan kekeliruan akibat mengikuti hawa nafsu. Karena itu baik Adam maupun daud as. Diberi peringatan agar tidak mengikuti hawa nafsu. (Baca QS, Thaha[20]: 16 dan QS, Shad[38]: 26].                                         







[1]M.Quraish Shihab, Tafsir al- Mishbah,Jakarta, Lentera Hati, 2002, hlm. 171-173.
[2]M.Quraish Shihab, op. Cit., hlm. 378-381.
[3]Mahmud Zahraam, Qashaashun minal quran, Kairo, cet.1.1956.
[4]Muhammad Rasyid Redha, Tafsir Al Manar, Jil 1 hlm, 455.
[5]Imam Jalaluddin muhammad ibn ahmad al-Mahalli dan Syaikh Mutabhr Jalaluddin abdurrahman bin abi bakr as-Suyuti, Tafsir Jalalein, Al-Hamain, 2007, hlm. 207.
[6]Imam Jalaluddin muhammad ibn ahmad al-Mahalli dan Syaikh Mutabhr Jalaluddin abdurrahman bin abi bakr as-Suyuti, op, cit., hlm. 32-33.
[7] M.Quraish Shihab, op. Cit.,
[8]Ahmad Musthofa al-Maroghi, Tafsir al-Maroghi, Semarang, Karya Thoha, 1993, juz 22.
[9] Muhammad Jamaluddin al-Qosimi, Tafsir al-Qosimi, Libanon, Darul kutub ilmiyah.
[10]M.Quraish Shihab, op, cit., hlm. 205.
[11] Tafsir Ibnu Katsir juz 21 penerbit. Sinar Baru Algesindo
[12]Imam Jalaluddin muhammad ibn ahmad al-Mahalli dan Syaikh Mutabhr Jalaluddin abdurrahman bin abi bakr as-Suyuti, op, cit., hlm. 123.
[13] Tafsir Ibnu Katsir juz 22. Penerbit. Sinar Baru Algensindo.
[14] Abi Hasan ali ibn muhammad ibn habait al-Mawardi al-Bashri, Tafsir al-Mawardi, Libanon, Darulkutub,  juz 5.

[15] Tafsir Ibnu katsir juz, 23  hal 266 penerbit  Sinar Baru Algensindo
[16] M.Quraish Shihab Tafsir Al-Mishbah Volume 12, hal 132.
[17]M.Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia dibalik sosok Fir’aun dan Abu Lahab yang kamu tidak ketahui

Saya sering kali membayangkan dan menginginkan untuk mengetahui sosok para Nabi, dan berhenti pada kesimpulan bahwa secara batin dan spiritual mereka sempurna dengan keimanannya PASTI... !!! dan tak dipungkiri secara fisik mereka akan mengalahkan kegantengan para aktor ya itu benar percayalah. ^^ Hingga akhirnya saya jadi membayangkan sosok sebaliknya seperti Abu Lahab dan Fir'aun, meskipun mereka telah tiada dan berada pada kerugian besar saya khawatir karena sebetulnya bahkan sosok yang telah tiada tersebut  karakternya mewariskan hingga saat ini Na'udzubillahi min dzalik. Ok kali ini saya akan membahas secara singkat ada hal unik dan sangat menarik di balik sosok yang termaktub pada alquran, ialah Fir’aun dan Abu Lahab. A.     Tentang Fir’aun Fir’aun merupakan penguasa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Ia mahir dalam bidang ilmu kimia untuk memproses tanah liat berubah menjadi batu normal. Memang, jika dilihat dari spesifikasi batu yang diguna...