Langsung ke konten utama

3 tips keberhasilan pada Toilet Training sang buah hati anda

Assalamu'alaikum bunda...
Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang keberhasilan Toilet Training pada anak pertama setelah berkali-kali saya gagal hehe
Betapa gembiranya saya saat si kecil sudah bisa bulak balik kamar mandi ketika ingin BAK atau BAB Mau tahu rahasianya? 🤩. Ok kita mulai saja ceritanya ya..
Saat anakku beranjak usia 2 tahun saya pikir sudah saatnya saya melepas ASI sekaligus melepas diapersnya, tapi semuanya pasti butuh proses ya kan tidak melulu instant dan langsung berhasil. Ok lah kita sebagai ibu dengan bermacam-macam sudut pandang yang berbeda izinkan saya berbagi tips menurut pribadi diri saya sendiri, barangkali tips ini bisa membantu mommy muda yang akan mengajarkan toilet training.
1. Kesiapan sang ibu
Nomor pertama tentulah sang ibu yang menjadi orang pertama yang siap melatih, siap sabar, dan siap segalanya.
Saya tidak memiliki asisten rumah tangga jadi saya harus siap mengerjakan segala aktivitas rumah sendirian, sesekali memang suami harus peka dan siap membantu istri di rumah.
Kita tentu kasihan bukan jika si kecil dipakaikan diapers terlalu lama, itulah alasan kuat saya siap untuk melatihnya agar pipis dan pup di kamar mandi.
Kebetulan karena saya juga disibukkan dengan sedikit kegiatan kuliah dan mengajar akhirnya saya baru siap melatih TT sepenuhnya saat sang anak berusia 2 setengah tahun nih bunda.
 A. "Perlahan tapi sering"
Kita terus menerus sounding kepada anak kalau pipis dan pup nanti selalu di kamar mandi. 
Bunda juga bisa menggunakan media alat bantu lainnya seperti buku anak terkait ataupun yang lainnya.
B. "Cobalah setengah hari"
Kita coba dulu tidak memakaikan diapers setengah hari dulu, meski berkali-kali sang anak masih tetap pipis di lantai jangan menyerah ya bunda. Capek? Pasti. Tapi ingat berapa lama bunda mengajarkan anaknya pipis di pampersnya? So jangan kemudian marah lantas menyerah ya bunda.

2. Kesiapan sang anak
Bunda anak pasti memiliki naluriahnya kapan dan dimana ia harus mulai memenuhi kebutuhan pribadinya. Hingga setelah anak saya terbiasa lepas diapersnya, akhirnya dia berhasil mengatakan ingin pipis pada kondisi sebelum pipis, biasanya dia berkata "pipis ummi" tapi dalam kondisi celana sudah basah 😂 atau terkadang saya segera membawanya ke kamar mandi pada waktu-waktu tertentu misalnya dua jam sekali, tapi tak kunjung juga pipis ataupun pup🤣. Haha sabar yaaa...
Tapi tenanglah bun akan ada hasil setelah segala ikhtiar kita. Kini anakku begitu terbangun dari tidurnya dia langsung meminta pergi ke kamar mandi pun kebiasaan sebelum tidurnya. Dia sudah pandai kapan waktunya harus pergi ke kamar mandi dan tidak lagi pipis ataupun pup di celananya. 

3. Support orang lain
Dalam kondisi apapun orang pertama yang paling saya butuhkan dukungannya adalah suami, jadi saat saya harus berkeluh kesah ataupun bercerita ada suami yang siap menerima ratusan kata istrinya sehari-hari 🤔😆 Bayangkan ketika kita ingin bercerita segala kisah harian di rumah tapi sang suami sangat tidak asyik diajak bicara itu akan mempengaruhi mood kita ya kan bunda-bunda hehe..
Atau jika suami tak mampupun menjadi support terbesar, jangan jadi pesimis terhadap apapun, semangatlan :) masih ada keluarga bahkan teman-temanmu yang tulus yaa.. 

Alhamdulillah ya bund selamat mencoba ^^



Komentar